Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat

Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat - Hallo sahabat m3et tv DN, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat
link : Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat

Baca juga


Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat


Sungguh miris kehidupan pemuda asal Bogor, Mansyurudin, yang merupakan seorang santri tunanetra di Rumah Tahfidz Nurul Qolbi, Tajur, Bogor. Pasalnya, ia harus tinggal di sebuah rumah bilik bambu yang terletak di di Gg. Tangkil, Rt 02/05, Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Bogor.

Meski demikian, Masnyurudin terliat tetap semangat untuk menjalani kehidupannya. Ia bahkan berkerja sebagai tukang pijat keliling untuk menghidupi keluarnya. Ia pun tinggal bersama kakak perempuannya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sedangkan sang ayah sudah lama menginap sakit pernafasan yang membuat kondisinya lemah dan tidak bisa bekerja lagi. Sang ibu pun telah lama meninggal sejak ia masih kecil.

Tinggal dirumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu, membuat dirinya terkadang merasa khawatir ketika hujan tiba. Terlebih, dinding yang sudah usang nyaris roboh serta atapnya yang bocor. Tapi, ia tetap sabar dan ikhlas menerima ujian tersebut.

"Kalau hujan turun saya gak bisa tidur, gimana bisa tidur nyenyak, sedangkan atap bocor di mana-mana, dinding rumah saya sudah hampir roboh. Saya pasrah aja, sambil baca sholawat. Kadang baca sebisanya, berharap sama Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan saya, keluarga dan rumah saya," ungkapnya.

Meski menjalani kehidupan yang berat, Mansyurudin tetap bersyukur karena Allah masih memberikannya kesempatan untuk menjadi tukang pijat. Harapannya, dari penghasilan menjadi tukang pijat itu dapat untuk memperbaiki rumahnya. Meskipun ia tahu, hasil dari memijat tidak seberapa. Terlebih di era digital seperti sekarang ini banyak langganannya yang beralih ke jasa pijat via online.

“Saya kepengen banget benerin rumah, tapi uang buat benerin belum ada, kerjaan saya tukang pijat, kakak saya juga sebagai pembantu, yang penting bisa buat makan sehari aja udah alhamdulillah. Sekarang orderan sepi semenjak ada jasa online, dulu mah ada aja setiap hari," harapnya.

Dalam keterbatasannya itu, Mansyurudin tetap berikhtiar untuk mejadi hamba-Nya yang bertakwa yaitu dengan menghafal Alquran. Uang hasil memijat ia gunakan untuk makan sehari-hari dan jika ada lebih dipakai untuk ongkos ngaji ke Rumah Tahfidz Nurul Qolbi. (mga/PPPA)


Demikianlah Artikel Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat

Sekianlah artikel Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat dengan alamat link https://www.meettv.me/2020/02/tinggal-di-rumah-bilik-bambu-santri.html

0 Response to "Tinggal di Rumah Bilik Bambu, Santri Tunanetra Ini Bertahan Hidup sebagai Tukang Pijat "

Posting Komentar